Gambar: Ilustrasi Limbah yang tidak diolah
Perlu kita ketahui, saat ini sudah banyak perusahaan start up yang memanfaatkan teknologi demi meraup keuntungan besar. Namun rata-rata perusahaan start up hanya memanfaatkan teknologi untuk keperluan menjual jasa; seperti jasa transportasi, jasa antar/kirim barang, dan yang paling banyak dan menjamur saat ini adalah jasa jual-beli online. Padahal terdapat peluang lain yang dapat tercipta dalam perkembangan digital diindonesia, dan mampu menyerap tenaga kerja yang besar dan dapat menambah penghasilan bagi pengguna jasa tersebut. Perlu diketahui saat ini saja proyeksi pengguna smart phone diindonesia bisa dilihat pada link dibawah ini: http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/08/pengguna-smartphone-di-indonesia-2016-2019
Banyaknya pengguna smart phone tersebut tentu membuat banyak munculnya inovasi-inovasi baru yang dapat mempermudah konsumen dalam beraktivitas. Namun, dari sekian banyaknya perusahaan start up yang ada diindonesia, masih belum ada perusahaan strat up yang bertugas dalam jasa pengelolaan limbah di indonesia. Jika kita lihat dikota jakarta saja saat ini, proyeksi limbah pada tahun 2017 mencapai 8,5 ribu ton/hari. Data selengkapnya bisa dilihat disini: http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/30/pada-2025-produksi-sampah-dki-jakarta-bisa-capai-9000
Kemudahan dalam beraktivitas sehari-hari tidak didorong dengan pemanfaatan smart phone dalam pemanfaatan limbah rumah tangga untuk menambah perekonomian keluarga. Jika dari beberapa kasus dapat kita lihat diberbagai tempat sampah dapat ditabung dalam bentuk uang”Bank Sampah”. Bank Sampah sudah terkenal dimana-mana dan sudah banyak terdapat ditempat yang dekat dengan TPA(tempat pembuanagan akhir) dikota-kota besar Bank Sampah masih belum faham, bahkan mereka sudah tau namun binggung bagaimana cara mengikutinya. Pesatnya perkembangan teknologi di indonesia membuka peluang pemanfaatan smart phone dalam menciptakan perusahaan start up yang masih belum digeluti orang.
Konsepnya sama seperti perusahaan start up yang menjual jasa lainnya. Pengguna smart phone melakukan penjualan terhadap operator perusahaan start up, lalu karyawan perusahaan start up datang kerumah untuk melakukan pengecekan, penimbangan dan pengambilan. Namun sebelum di ambil limbah tersebut, perlu ditimbang terlebih dahulu setelah itu dicatat didalam sell aplikasi, seberapa berat limbah yang akan dijual. Diaplikasi tersebut tercatat nomor anjungan tunai mandiri(ATM) yang kita miliki. sehingga jika limbah yang kita sell diaplikasi tadi terjual dengan harga tertentu, maka akan langsung terkirim dalam ATM yang kita miliki, namun terlebih dahulu sudah dipotong biaya-biaya administrasi oleh perusahaan start up tersebut. Tetapi limbah yang diambil oleh karyawan tersebut sudah kita pisahkan dahulu antara limbah organik dan limbah non organik. Jika memang ini tercipta bukan tidak mungkin jumlah sampah yang menumpuk di TPA dapat dikurangi dan diolah secara tepat, dan mampu menciptakan kota-kota bersih. Bukan hanya barang bagus atau bekas yang dijual tetapi limbah pun bisa dijual untuk menambah penghasilan.
